2.45 a.m.

I should stop having this unhealthy-obsession with caffeine

Ternyata terkadang hal-hal yang kita harap terjadi, merupakan hal-hal yang sebaiknya tidak pernah terjadi. Siklus itu terus berjalan. Rindu disaat jauh, namun hanya amarah yang ada ketika dekat. Semua orang lelah, semua orang ingin dimengerti, namun semua orang sulit untuk mengerti. Dan disinilah aku, seorang pengamat yang terlalu lelah untuk minta dimengerti. Hanya bisa membisu dan mencoba mengerti. Yang tua merasa telah memberikan segalanya. Yang muda merasa terlalu dini untuk melaluinya. Lalu mulut ini harus berbicara kepada siapa? Kepada yang tua tentu akan diikuti dengan berbagai ungkapan lelah dan tuntutan untuk berbuat lebih. Sedangkan yang muda senang sekali berbicara sesuka hati tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Yang jauh disana, sedang berjuang sekuat tenaga, diikuti untaian kata maaf yang tentunya akan dimaafkan. Tidak, dia tidak salah. Setidaknya itu yang ingin aku yakini. Pergumulan dalam hati untuk menghilangkan rasa kesal akan kenyataan dan berusaha untuk lebih menerima. Entah dengan dua manusia lainnya, melihat mereka menjadi kepribadian yang lebih pahit ternyata cukup menyakitkan. Dan lebih menyakitkan ketika usaha untuk membangun sebuah hubungan yang baik tidak jarang dibalas dengan untaian kata egoisme. Tidak bisa menyalahkan perubahan diri mereka, karena hati ini juga merasakan hal yang sama. Jadi lebih baik diam saja. Namun pada saat yang sama, si tua berharap lebih dari diri ini atas tanggung jawab untuk membimbing yang muda. Tuntutan hidup dan masa depan pun tidak pernah berhenti, mengkuras habis semua yang ada. Tidak jarang yang tersisa hanya rasa lelah yang menumpuk di ujung hari.

Berpengharapan kepada-Nya dan hari esok adalah usaha terbaik. Terlalu lelah untuk menyesali kemarin dan memikirkan hari ini.

Missing the old days. Some texts and photos mean too much as if they can speak to you, telling you the things you should and shouldn’t have done, waking you up from the ambition of getting nowhere, listing the things that you have wasted.

P.S: The ambiguity of people gestures may lead to a temporary brain damaged.

The time when i finally realize that the old days were not so bad at all, is the time when everything has already changed.

Waktu berputar dan hari berlalu. Kesibukan yang seharusnya menghilangkan diri ini dari kenyataan, ternyata hanya membawa pada kesadaran yang utuh di ujung hari. Rasa lelah yang berlipat ganda ternyata hanya mempersulit kedua mata ini untuk terpejam. Jiwa-jiwa lain di bawah atap ini entah mengapa sepertinya juga melakukan hal yang sama. Satu per satu mencari kesibukan yang lebih banyak dari biasanya. Atas dasar yang sama, kah? Rasa lelah yang tak jarang berujung pada amarah, dari satu mulut ke mulut lainnya. Salah siapa, kah? Rumah ini kosong, dihiasi oleh celotehan dan berbagai bentuk ekspresi atas rasa lelah. Kesibukan yang kian bertambah merupakan pelarian dari sebuah kehampaan. Sampai kapan, kah? Bibir ini memiliki banyak keluh kesah, tapi apalah arti hidup seorang manusia tanpa tujuan dan harapan. Mengerti, menjadi seseorang yang penuh pengertian. Hanya itu kan yang bisa dilakukan. Tanpa tahu sebenarnya orang lain mengerti atau tidak.

Sometimes i want to runaway, to the highest mountain or to the bottom of the sea, escape from everything.

I miss how we live in this house back then, maybe we can go to the church together again? I miss us. I just want everyone to go back home.

soldier on, soldier on
keep your heart close to the ground
soldier on, soldier on
keep your heart close to the ground

don’t think about it all
just keep your head low
don’t think about it
at all


Don’t think about it all
Just keep your head low
Don’t think about it

Watching my brother being more bitter as the days are passing. It’s a bitter thing. But who’s to blame when you got a bitter heart in this bitter world?

Semua orang di dunia ini pasti hidup dengan masalah, itu hal yang mutlak. Terkadang kita berpikir masalah yang kita hadapi itu terlalu berat dibandingkan yang lain —> pernyataan ini adalah suatu pembenaran diri atas ketidakmampuan kita untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Nggak sedikit orang di dunia ini yang dipaksa untuk menjadi lebih dewasa dibandingkan dengan orang lain di usianya. If you are one of them, don’t be so pissed. If you are in a condition dimana lo masih belom bisa menerima keadaan lo, you must be very pissed membaca hal-hal yang akan gue ungkap. When that storm hits you so hard to the lowest point of you (padahal didepan nanti bakal lebih banyak lowest point in your life), you might say that God is unfair. As i told you before, itu adalah ketika lo dipaksa untuk menjadi jauh lebih dewasa dibandingkan dengan anak-anak di usia lo. I’m not going to be so naive and say : bersyukurlah karena itu berarti Tuhan kasih lo kesempatan untuk lo belajar lebih cepat daripada yang lain. What i’m going to say is : jalanin aja. You never know how strong you are until your only choice is to be strong. Sebenarnya lo mampu kok. Analogi nya, kalo lo mau pulang dari Pondok Indah Mall ke rumah lo di Kelapa Gading tapi cuman bisa jalan kaki, lumayan jauh banget tuh. Kendaraan lain ga ada dan lo ga punya hp atau dompet, bahkan kenalan pun gada. Sebenernya lo tau kan dalam hati lo kalo lo sanggup, meskipun akan sangat capek dan memakan waktu yang lama. Mau ga mau lo harus pulang kan? Kalo lo nggak jalan terus masa iya jadi gembel di pinggir jalan? Hidup juga begitu kan, kita nggak cuman hidup untuk sekarang, tapi ada masa depan. Kalau belom apa-apa udah nyerah, ya ngapain hidup? Then the hardest part is selama lo jalan kaki pulang, pasti ada point dimana rasanya capek banget dan udah ga sanggup lagi. Itu ga salah kok, di saat seperti itu lo diperbolehkan untuk mengekspresikan diri lo, daripada diem doang tapi lama-lama jadi gila. Ga selamanya lo bisa menjadi orang yang tangguh, ada momen dimana you just want to cry your heart out. Tapi bukan berarti itu mengakhiri perjalanan lo, you need to get back on your feet. Keep moving, even the weather is so cold and your feet are shaking. Oh, a little escape is a must tho. It’s like giving yourself a present, from you, to you. Sometimes kebahagiaan diri kita itu didapat dari diri kita sendri, karena kalo kebahagiaan lo ada di orang lain, there will be times when that person simply let you down. Bukan karena kesalahan dia, tapi karena harapan lo sendiri. So just do what makes you happy. Tentara di medan perang aja butuh hiburan (HAHA) ya tapi itu cenderung ke hal yang negatif sih, do the positive things instead. Cheer yourself up, you deserve it.

It’s a long and windy road, but it’s better than no road at all.