It’s not because i don’t feel anything. When it comes to a point where the world gives you no choice, you can’t do anything but to be strong. Adel told me that “you’ll never know how strong you are until your only choice is being strong”, she read it from some random blog. And yes, it can’t be more true than that. I just have to live with it.

I love you papa. Through your ups and downs. Through all your struggles. You have to be greater than what you suffer. I’m sorry for being so immature sometimes, selfish too. Mama, Joey, Cilla, and Raja are here. You’ll never be alone papa.

This one comes from my brain. This is just a random opinion.

Akhir-akhir ini Indonesia sedang sibuk menentukan pilihan. Ada yang sudah menentukan, tapi nggak sedikit juga yang masih bimbang. Ada 2 tim calon presiden dan wakil presiden. Setiap calon memiliki kekurangan dan kelebihan, both also have pros and conts. Mulai dari misi, goal, kelebihan, sampai keburukan masing-masing calon ada dimana-mana. Gue sendiri sampai sekarang masih belum bisa menentukan pilihan. Gue belum mengerti kondisi Indonesia secara keseluruhan, dan itu yang akan menjadi PR buat gue. Kenapa harus begitu? Karena menurut gue untuk menentukan pilihan yang terbaik untuk Indonesia, kita harus tau apa yang sebenarnya dibutuhkan negara kita. Kemudian kita melihat dari masing-masing calon, mana yang bisa mengatasi kebutuhan Indonesia? Are they able enough to carry Indonesia to be a better country? Well the next one is going to be a kind of ridiculous but it’s just me and my thoughts. Menurut gue, calon pemimpin Indonesia butuh untuk di “kader”. Why is that? Setiap presiden pasti punya visi dan misi untuk masa jabatannya yang berlangsung selama 5 tahun. Since Indonesia is a developing country, i’m thinking that our country sebenarnya butuh satu visi jangka panjang yang jelas untuk setiap presiden yang akan menjabat untuk mencapai satu goal. Anggap saja begini, setiap presiden memiliki visi misi yang berbeda, ketika seorang presiden menjabat ia sudah membawa Indonesia berprogres sejauh 25%, ketika masa jabatannya habis dan presiden yang baru menggantikan posisinya dengan visi misi yang berbeda, progres tersebut mundur 10% menjadi 15% namun kemudian meningkat menjadi 30%, padahal sebenarnya progres tersebut seharusnya tidak mengalami kemunduran sebesar 10%. Dengan adanya “kader” oleh perwakilan rakyat yang tergabung dalam MPR, calon-calon presiden diberikan dasar pemikiran yang sama dan visualisasi jelas tentang keadaan dan kebutuhan Indonesia. Kemudian MPR akan memaparkan hasil “kader” tersebut kepada rakyat untuk membantu menentukan pilihan. Calon-calon presiden tentu memiliki cara yang berbeda-beda untuk mencapai visi jangka panjang tersebut, namun mereka juga tidak boleh melupakan apa yang sudah dikerjakan oleh presiden sebelumnya. Sistem kerja dari mantan presiden dengan presiden yang baru harus berkelanjutan namun realistis. Maksudnya adalah harus terus berjalan maju, namun tahu mana program yang harus dihentikan, diperbaiki, atau dilanjutkan. Program baru juga terkadang diperlukan. To eastablish the welfare of our nation, we as the Indonesian people also need to improve ourselves. Harus ada kesinambungan antara yang memimpin dan dipimpin. Pendidikan, it plays a very important role in our civilization. Melalui pendidikan itu juga, kita akan diajarkan untuk berpikir kritis dan pintar, setidaknya memampukan kita untuk menentukan pilihan terbaik.

Selamat berdemokrasi, rakyat Indonesia!

Sometimes it’s hard to distinguish between the things that we deserve and the things that exist sebagai bentuk nyata keegoisan diri. Sepertinya diri ini memang menuntut terlalu banyak. Tapi bagaimana jika kita memang pantas mendapatkannya? No, i’m no better than you, or anyone, i’m just too selfish.

Sometimes some things are better left unsaid. Mungkin kita terlalu takut akan hal-hal yang mungkin terjadi setelahnya. Atau kita ragu whether itu benar atau salah, karena kata-kata itu bisa melukai orang lain meskipun kita nggak bermaksud. The words that you wish you could say but you couldn’t, make your mind a bit heavy.

International Class of SMA Negeri 8 Jakarta (minus Survi yang lagi sakit) btw angkatan terakhir banget nih???

Arthur-Aldy-Naufal-Dzaky-Aye-Fayyadh-Ilo-G-Adream-Bayprak-abim-Darys-Dhana-Ronan-Bams-Reihan-Yoyo-Baywise-Risyad-Sica-Wiwin-Revo-Davi-Galuh-Affi-Keke-Dira-Rozan-Khobita-Athira-Qoni-Brigitta-Ode-Raisa-Sela-Anes-Mayo-Kanina-Fasya-Joey-Andien-Liya-Dhilla-Jasmine-Ayasha-Tanty-Odys

Because when ur mom is a clean freak, menyikat tudung saji segede meja makan dengan sikat GIGI (iya yang kecil itu) menjadi hal yang lumrah. Kenapa nggak pake sponge? Karena nanti kurang bersih. Sekalian aja pake sikat WC gitu yak biar efisien. Selain itu, menemukan lap (atau serbet) di tempat sampah juga hal yang lumrah, habis dipake ngelap sesuatu langsung dibuang karena katanya udah jorok (padahal bisa dicuci), berasa saudagar lap banget si emak. Oke cukup entar gue kualat, sayang mamak mwah!